Jumat, 07 November 2014

Bercanda itu boleh kok, asal..


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yang memperbaiki akhlaknya.” (H.R imam ahmad, abu dawud, dan tirmidzi)

***

Bercanda ataupun tertawa ialah satu bagian dari fitrah manusia. Olehnya islam tak pernah melarang untuk bersendau gurau tetapi malah menganjurkan adanya selipan canda tawa ditengah kesibukan kita sehari-hari. Karena dengan bercanda suasana yang tadinya terasa membosankan dapat terasa menyenangkan bahkan canda pun dapat mempererat silaturahim antar sesama muslim.

Bercanda dapat diumpakanan seperti kita memasukkan garam ke dalam masakan. Apabila tak diberi garam maka akan terasa hambar. Tetapi apabila berlebihan maka tentu tak akan nikmat rasanya. Seperti halnya masakan yang memiliki takaran tertentu dalam menambahkan garam. Nah, ternyata bercandapun ada takarannya loh. Maka sudahkah canda kita selama ini memenuhi batas takarannya?

Berikut beberapa hal yang harus di garisbawahi saat bercanda:

1. Lebih baik diam kecuali berkata benar
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Betul, hanya saja aku selalu berkata benar. (H.R Ahmad)

2. Tidak berlebihan saat bercanda tawa
Makanan yang kelebihan garam bukan hanya tak akan nikmat saat disantap tetapi bisa saja mendatangkan penyakit bagi tubuh kita. Bercanda yang berlebihan hingga tertawa terbahak-bahakpun tentu tak akan baik sebagaimana sabda Rasulullah:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” [2][3]

Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَس
“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” [3][4]

3. Kenali watak seseorang yang akan diajak bercanda
suatu masakan memang akan terasa lebih nikmat jika ditambahkani garam. Akan tetapi kita harus mengingat bahwa diantara sekian banyak jenis masakan sebagian kecil diantaranya ada yang rasanya akan aneh jika dibubuhi garam sekalipun hanya sedikit. Maka sebelum bercanda dengan seseorang ada baiknya jika kita kenali dulu bagaimana watak dan pribadinya. apakah ia seorang yang baik saja diajak bersenda gurau atau malah seorang yang hanya bisa diajak serius. Jangan sampai niat baik kita dalam bercanda untuk mempererat silaturahim malah merenggangkan tali silaturahim itu sendiri.

4. Tidak bercanda dalam urusan agama

Berikut beberapa kisah saat Rasulullah tengah bercanda:
1) Setiap Unta Pastilah Anak Seekor Unta!
Anas bin Malik bercerita bahwa suatu hari ada seseorang meminta sebuah kendaraan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
“Ya Rasulullah, bawalah saya naik ke unta,” pintanya.
Dengan nada bergurau, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab permintaan itu, “Tidak, tetapi aku akan membawamu naik anak unta saja.”
Setelah mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanya memiliki anak unta, orang itu serta merta menolak.
“Apa yang bisa kulakukan dengan anak unta, ya Rasulullah? Ia tidak mungkin kuat membawaku dan aku pun tak mau naik anak unta,” katanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun tersenyum kemudian menjelaskan maksud perkataan beliau, “Bukankah yang dilahirkan oleh unta itu namanya juga anak unta?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Orang itu pun kemudian mengangguk, seolah baru sadar kalau unta besar juga dilahirkan oleh unta. (HR. Bukhari).
[berkisah.com]
2) Putih di Mata
Suatu ketika, Ummu Aiman al-Habasyiyah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk menyampaikan sebuah undangan.
“Ya Rasulullah, suamiku mengundang Anda datang ke rumah,” katanya.
Melihat kedatangan Ummu Aiman yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ingin sedikit menggodanya.
“Siapa suamimu itu? Apakah yang ada putih-putih di matanya?” tanya beliau.
“Tidak, ya Rasulullah, mata suamiku biasa saja. Tidak ada putih-putih di matanya,” kata Ummu Aiman sewot.
“Kamu keliru, mata suamimu itu ada putih-putihnya,” desak beliau.
“Tidak, ya Rasulullah, mata suamiku tidak ada putih-putihnya.”
Mendengar jawaban Ummu Aiman yang masih ngotot itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun tersenyum dan menjelaskan maksud perkataan beliau.
“Setiap mata itu pasti ada putih-putihnya, bukan?”
Maka, Ummu Aiman pun langsung tertawa menyadari kekeliruannya. (HR. Ibnu Abi Dunya).
[berkisah.com]
3) Wahai, pemilik dua telinga!
    Anas Radhiyallahu ‘anhu menceritakan salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memanggilnya dengan sebutan:
يَا ذَا الاُّ ذُ نَيْنِ
Wahai, pemilik dua telinga! [1]
[almanhaj.or.id]

Footnote
________
[1] Diriwayatkan oleh Ahmad (III/117, 127, 242, 260), Abu Dawud (5002), at-Tirmidzi (1992). Lihat Shahîh al- Jâmi’ (7909).
[2] diriwayatkan oleh HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435
[3] via al-atsariyyah.com
[4] Diriwayatkan oleh HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497

Tidak ada komentar:

Posting Komentar