Rabu, 05 November 2014

Kematian, sudahkah kita merenungkannya?


Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri) (via@perkumpulanhadits

***

Kematian, sudahkah kita merenungkannya?
Kematian tentang bagaimana, kapan, dan dimana ia akan datang menghampiri. Akankah kematian itu datang ketika kita berada dalam ketakwaan kepada-Nya? atau malah  ketika kita tengah dibutakan oleh janji-janji duniawi.
Hadits riwayat Abdulllah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa  Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Malaikat maut memperhatikan wajah manusia 70 kali dalam sehari. Ketika izrail datang merenung wajah manusia, ditemukan orang itu ada yang tertawa-tawa"
Jika saja kita tahu dan sadar akan hal itu, masih dapatkah senyum itu menyapu wajah-wajah kita? masih sanggupkah tawa itu menggema dengan lantangya. Apabila Izrail memperhatikan kita seraya berkata, "besok adalah yang terakhir bagimu." Apa yang akan selanjutnya kita perbuat. Sudahkah cukup bekal yang selama ini kita kumpulkan di dunia.


Maka izrail berkata: "alangkah herannya aku melihat orang ini. Sedangkan aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya tetapi ia masih bersantai dan bergelak tawa."

Tentu tak satupun dari kita yang ingin pergi ke hadapan Sang Pencipta dengan berlumuran dosa pun gemilang maksiat. Olehnya, mari muhasabah diri kita masing-masing untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya.

***

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. [HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad]. (via@almanhaj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar