Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Aku pernah bertemu Rasulullah SAW, lalu beliau berpesan keapdaku, “Wahai ‘Ubah bin ‘Aamir, sambunglah orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang tidak mau memberi kepadamu, dan maafkanlah orang yang berbuat dzalim kepadamu”. [HR. Muttafaq ‘alaih.]
***
“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki ahli syurga” kata
Rasululloh. Sontak mendengar hal itu para sahabat menjadi riuh, siapakah
ahli syurga yang dimaksud Rasululloh? Apakah dia orang yang paling berani dalam berjihad? Yang paling banyak shoumnya? Sedekah dan qiyamul lailnya paling rajin?
Tiga hari berturut-turut Rasululloh mengatakan hal yang sama, dan yang
melintas setelah itu selalu sosok yang sama, yakni salah seorang sahabat
Anshar. Abdullah bin Amr bin Ash sangat penasaran, sehingga beliau bertekad mencari tahu rahasia amalan sahabat Anshar tersebut. Strategi pun disusun agar Abdullah bisa bermalam selama tiga hari di rumah sang sahabat Anshar.
“Aku memiliki persoalan dengan Ayahku, sudikah engkau membolehkan aku bermalam di rumahu selama tiga hari?” tahya Abdullah.
“Tentu saja, silakan!” jawab sahabat Anshar itu.
Di hari pertamanya Abdullah tidak menemukan adanya ibadah istimewa yang
dilakukan sahabat Anshar itu. “Mungkin besok aku akan mengetahui
rahasianya.” ujarnya dalam hati. Namun sayang hingga hari ketiga,
Abdullah tidak menemukan apa yang dia ingin ketahui dari sahabat Anshar
itu. Tentu saja Abdullah bingung karena sahabat Anshar itu tidak pernah
shoum sunnah, Sholat malam pun tidak, lantunan dzikir juga tidak pernah
Abdullah dengar dari lisan Sahabat Anshar itu.
Di hari ketiga,
akhirnya Abdullah menyerah dan mengatakan yang sesungguhnya kepada
sahabat Anshar itu bahwa dia tidak pernah bertengkar dengan Ayahnya, dia
hanya ingin tahu apa amalan yang sahabat Anshar itu lakukan sehingga
Rasululloh menyebutnya sebagai ahli surga.
“Beritahukanlah aku rahasia amalanmu agar aku bisa melakukannya dan menjadi ahli syurga sepertimu” kata Abdullah.
“Aku tidak memiliki amalan selain engkau lihat selama tiga hari
menginap di rumahku,” katanya. Jawaban itu tidak memuaskan Abdullah,
akhirnya ia pun minta ijin untuk pulang.
Namun tak jauh
melangkah, Sahabat Anshar itu memanggilnya . “Benar sekali amalanku
hanya yang engkau lihat selama ini, namun ada yang lupa aku ceritakan
padamu yaitu sebelum aku tidur kuingat semua orang yang perbuatannya
pernah menyakitiku dan aku tidak akan tidur kecuali telah memaafkannya.” Mendengar itu Abdullah tersenyum puas karena apa yang ia inginkan akhirnya telah ia dapatkan.
Sahabat mu'min, masih adakah orang-orang yang belum kita maafkan karena mereka pernah menyakiti kita? Relakah jika surga menjauh dari diri kita hanya karena telah bertekad
seumur hidup takkan pernah mengampuni kesalahan orang tersebut?
Jika kita ingin Allah mengampuni segala kesalahan kita dan memasukkan
kita ke syurga-Nya, yuk saat ini juga... Hadirkan kembali wajah-wajah
orang yang pernah mendzolimi, menyakiti, dan memperolok kita. Lalu
katakanlah, "Demi Allah, aku telah memaafkanmu..."
Semoga kemaafan ini, membuat Allah ridho pada hidup kita dan menjadikan kita salah satu penghuni syurga-Nya... Aamiin.
sumber: majalahummi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar