Sabtu, 08 November 2014

Usaha Iblis Menjauhkan Manusia dari Kebaikan

Dalam kitab shahih muslim disebutkan seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum mempunyai seorang penuntut untuk menuju masjid setiap kali suara adzan digemakan oleh sahatat Bilal bin Rabbah. Suatu hari atas takdir Allah, seorang yang biasa membantu dan menuntut Abdullah bin Ummi Maktum meninggal dunia. Lalu dia pun menghadap menemui Nabi saw berkata,”Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntutku ke masjid. Lalu ia meminta keringanan untuk diperbolehkan mengerjakan shalat dirumah. Rasulullah pun mengijinkan. Ketika orang itu pamitan, beliau memanggilnya, ”Apakah kamu mendengar seruan untuk shalat (adzan)? Laki-laki itu menjawab, Ya.” Jika demikian jawablah seruan itu!" Sabda Rasulullah.

Inilah salah satu mental para sahabat nabi dan orang-orang beriman ketika mendapat perintah dari Allah dan Rasul-Nya, maka jawaban yang akan muncul adalah sami’na watha’na dalam kondisi apapu. Tanpa harus menimbang ulang bagaimana teknis atau apa konteknya, tanpa mengkritisi kondisi dengan berbaagai dalih hak asasi manusia, seperti yang banyak kita kita jumpai sekarang ini.

Maka ke esokkan harinya, Abdullah bin ummi Maktum berangkat menuju masjid, seketika terdengar adzan subuh berkumandang. Tapi di tengah jalan sendiri, ia terjatuh dan dahinya terbentur batu sampai berlumuran darah membasahi wajahnya. Dan ketika ia berdiri dan hendak meneruskan langkahnya ada seorang anak muda yang menangkap lengannya dan mengantarkannya ke masjid. Bahkan sang pemuda, tidak saja mengantarkanya ke masjid, ia berjanji juga akan mengatarnya sampai ke rumah dengan selamat.

Kejadian ini berlangsung sampai beberapa hari. Abdullah bin Ummi Maktum sendiri merasa senang dan bertanya kepada sang pemuda siapa namanya. Tapi sang pemuda balik bertanya, untuk apa kau mengetahui namaku. Lalu Ibnu maktum berkata, agar ia dapat mendoakan kepada Allah supaya ia mendapat pahala apa yang telah dilakukannya. Tapi sang pemuda berkata, bahwa ia tidak ingin di doakan dan meminta Ibnu Maktum tak mempedulikan urusannya dan tidak pula perlu bertanya tentang siapa namanya. Yang penting, ia akan tetap mengantarkan Abdullah bin Ummi Maktum pergi dan pulang dengan selamat saat melakukan ibadah di masjid.

Dengan nada tinggi Abdullah bin Ummi Maktum mengatakan kepada sang pemuda, bahwa demi Allah ia tak perlu lagi mengantarkannya sebelum ia memberitahukan siapa namanya. Dan karena Abdullah Umii Maktum telah bersumpah, sang pemuda pun akhirnya memberi tahu siapa dirinya. Ia berkata, bahwa sejatinya di adalah iblis. Abdullah bin Ummi Maktum terkejut mendengar jawabannya dan bertanya, mengapa engkau justru menuntutku untuk beribadah padahal semestinya iblis berusaha menghalang-halangi manusia untuk beribadah.

Lalu sang iblis menceritakan apa yang ia dengar. Ketika Abdullah bin Ummi Maktum terjatuh dan darah membasahi dahi dan wajahnya, iblis mendengar Allah memerintahkan kepada malaikat-Nya untuk mengampuni setengah dari dosa-dosa Abdullah bin Ummi Maktum lantaran ia terjatuh dan berdarah, iblis khawatir jika Allah mengampuni seluruh dosa Abdullah bin Ummi Maktum, jika ia terjatuh untuk yang kedua kalinya. Karena itu pula ia bersedia menuntut Abdullah bin Ummi Maktum sampai kemasjid dan melakukan ibadah, agar tak terjatuh untuk kedua kalinya dan terhapus seluruh dosanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar