Dari Abu Hurairah - radhiyallahu 'anhu - bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad - shallallahu 'alaihi wa sallam - : “Berikanlah wasiat (pesan) kepadaku.” Rasulullah saw bersabda: "Jangan marah." Lelaki tersebut mengulangi pertanyaannya dan Rasulullah bersabda : "Jangan marah." (HR Bukhari)
***
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh: al-Bukhâri (no. 6116), Ahmad
(II/362, 466, III/484), at-Tirmidzi (no. 2020), Ibnu Hibban (no.
5660-5661 dalam at-Ta’lîqâtul Hisân), ath-Thabrani dalam
al-Mu’jamul-Kabîr (II/261-262, no. 2093-2101), Ibnu Abi Syaibah dalam
al-Mushannaf (no. 25768-25769), ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (no.
20286), al-Baihaqi dalam Syu’abul-Îmân (no. 7924, 7926), al-Baihaqi
dalam as-Sunanul-Kubra (X/105), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah
(XIII/159, no. 3580).
SYARAH HADITS
Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits ini bernama Jariyah bin Qudamah
rahimahullah . Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang
singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia
dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya
agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu
berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini
menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan
diri darinya adalah pokok segala kebaikan.
Marah adalah bara yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam
sehingga ia mudah emosi, dadanya membara, urat sarafnya menegang,
wajahnya memerah, dan terkadang ungkapan dan tindakannya tidak masuk
akal.
DEFINISI MARAH
Marah ialah bergejolaknya darah dalam hati untuk menolak gangguan yang
dikhawatirkan terjadi atau karena ingin balas dendam kepada orang yang
menimpakan gangguan yang terjadi padanya.
Marah banyak sekali menimbulkan perbuatan yang diharamkan seperti
memukul, melempar barang pecah belah, menyiksa, menyakiti orang, dan
mengeluarkan perkataan-perkataan yang diharamkan seperti menuduh,
mencaci maki, berkata kotor, dan berbagai bentuk kezhaliman dan
permusuhan, bahkan sampai membunuh, serta bisa jadi naik kepada tingkat
kekufuran sebagaimana yang terjadi pada Jabalah bin Aiham, dan seperti
sumpah-sumpah yang tidak boleh dipertahankan menurut syar’i, atau
mencerai istri yang disusul dengan penyesalan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah berkata, “Adapun hakikat
marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa
hilang dari perilaku kebiasaan manusia.”[1]
Adapun marah yang dinisbatkan kepada makhluk; ada yang terpuji ada pula
yang tercela. Terpuji apabila dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dalam
membela agama Allah Azza wa Jalladengan ikhlas, membela hak-hak-Nya,
dan tidak menuruti hawa nafsu, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau marah karena ada hukum-hukum
Allah dan syari’at-Nya yang dilanggar, maka beliau marah. Begitu pula
marahnya Nabi Musa Alaihissallam [2] dan marahnya Nabi Yunus
Alaihissallam [3] . Adapun yang tercela apabila dilakukan karena membela
diri, kepentingan duniawi, dan melewati batas.
BAGAIMANA MENGOBATI AMARAH JIKA TELAH BERGEJOLAK?
Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta'awudz
Diantara cara yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meredam amarah adalah dengan mengucapkan: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ .
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu anhu, ia berkata:
Kami sedang duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang dari keduanya mencaci temannya sambil marah, wajahnya memerah, dan urat lehernya menegang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh, aku mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia mengucapkan,
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)". Para sahabat berkata, "Tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?" Laki-laki itu menjawab, "Aku bukan orang gila".[4]
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
4. Dianjurkan berwudhu’.
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk,
dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirahat.
8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
_______Footnote
[1]. Fat-hul Bâri, X/520.
[2]. Lihat Qs. al-A’râf/7 ayat 150.
[3]. Lihat Qs. al-Anbiyâ` ayat 87.
[4]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 3282, 6048, 6115), Muslim (no. 2610). Penafsiran ucapan “Aku bukan orang gila” silakan lihat Fat-hul Bâri (X/467).
via@almanhaj

Casino Review & Ratings by Real Players | DrmCD
BalasHapusCasino Review. No 하남 출장마사지 one is here to tell you everything you need 의왕 출장마사지 to know about the casino 진주 출장샵 or 밀양 출장샵 the best bonus 인천광역 출장마사지 offers for US players. We have made a